Nyadran, Tradisi Jawa yang tetap lestari ….

Bodeh.desaku – Pagi ini masyarakat Desa Bodeh bersama-sama menuju ke Makan Desa Bodeh untuk bekerja bakti gotongroyong membersihkan Tempat Pemakaman Umum desa Bodeh atau yang biasa disebut dengan Nyadran. bersama Bapak Kepala Desa Bodeh dan Perangkat desa bersama-sama masyarakat membersihkan TPU yang mana pada kegiatan tersebut diakhiri dengan do’a dan makan bersama. Di Desa Bodeh tradisi nyadran dilakukan rutin setiap menjelang bulan Ramadhan atau di akhir bulan Sya’ban. Sebagian mengatakan dengan istilah arwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar Jawa Timur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

sebagai pengetahuan kita bersama bahwa Nyadran adalah serangkaian upacara peninggalan nenek moyang yang dilakukan oleh masyarakat khususnya masyarakat jawa tengah dan jawatimur kulonan (baratnya sungai kali brantas). Nyadran sendiri berasal dari bahasa sangsekerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran merupakan tradisi pembersihan makam oleh masyarakat jawa umumnya di pedesaan. Dalam bahasa jawa sendiri nyadran berasal dari kata sadran yang artinya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bungan, dan mempunyai puncak berupa kenduri selamatan makam leluhur.

Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha, sejak abad ke – 15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat jawa saat itu tentang pemujaan roh yang pada agama islam dinilai musrik. Agar tidak berbenturan pada tradisi jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat nyadran tersebut, melainkan menyelelaraskan dan mengisinya dengan ajaran islam, yaitu dengan pembacaan Al-Qur’an, Tahlil, dan Do’a. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan. [Pndy]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*